Monday, October 8, 2007
SEBUAH RENUNGAN IEDUL FITRI
Setiap tahun umat Islam menjalankan ibadah puasa yang diakhiri dengan 'iedul fithri' (kembali ke fitrah). Fithrah atau fithri dapat diartikan sebagai 'suci'. Jadi, setelah berpuasa selama satu bulan (29 atau 30 hari) keadaan diri orang Islam menjadi 'suci'. Kesucian yang dimaksudkan adalah suci hatinya, suci pikirannya, suci perkataannya, suci perbuatannya, dan suci-suci lainnya yang menunjukkan kesucian diri seseorang muslim setelah menunaikan ibadah puasa. Amalan ibadah puasa (siyam) yang dapat mengantarkan seseorang kepada keadaan 'suci' adalah apabila puasa orang tersebut diterima oleh Allah SWT. Puasa yang diterima oleh Allah SWT yaitu apabila puasa itu dilaksanakan sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW. Ciri orang-orang yang puasanya diterima Allah SWT adalah apabila setelah berpuasa orang-orang tersebut menunjukkan perilaku, perbuatan dan tingkah-laku yang mencerminkan ahlak mulia seorang hamba Allah SWT. Sebaliknya orang-orang yang puasanya tidak diterima Allah SWT adalah orang-orang yang puasanya tidak sesuai, cacat, rusak dan menyimpang dari tuntunan Rasullullah SAW. Cirinya, setelah berpuasa perilaku buruknya tidak berubah menjadi baik bahkan semakin menjadi-jadi. Orang-orang dengan ciri demikian puasanya hanya mendapatkan predikat 'lapar dan dahaga'. Nah, sekarang marilah kita instrospeksi diri sendiri, posisi kita ini di mana, termasuk orang yang diterima puasanya oleh Allah SWT (mendapatkan Lailatul Qadar) atau orang yang ditolak puasanya oleh Allah SWT sehingga hanya 'lapar dan dahaga' yang diperoleh? Hanya Allah SWT dan hati kita masing-masing yang tahu.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment